![]() |
foto : pixabay.com |
Pengalaman saya pertama kali berkunjung ke dokter gigi
beberapa tahun silam, menyisakan trauma ketakutan hingga sekarang. Betapa
tidak? Pengalaman pertama mempunyai masalah gigi dan langsung mendapatkan
treatment dengan pencabutan dua gigi sekaligus karena posisi gigi geraham besar
miring dan menekan gigi depannya. Posisi upnormal gigi geraham ini menyebabkan sisa-sisa
makanan sulit dijangkau ketika menggosok gigi sehingga munculah karies. Karena itu
terpaksa dilakukan tindakan operasi. Akibatnya, gusi menjadi bengkak beberapa
hari, boro-boro untuk senyum, untuk membuka mulut, mengunyah dan menelan makanan
saja terasa sulit karena sakit.
Masing-masing orang pasti mempunyai pengalaman trauma yang
berbeda. Dan trauma inilah yang membuat sebagian besar orang enggan/takut ke
dokter gigi. Mungkin jika ada sebuah survey ketakutan kunjungan ke dokter gigi,
“trauma pengalaman pertama kali” ini bisa menempati urutan pertama.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2007, penduduk Indonesia
yang mempunyai karies (gigi berlubang) aktif mencapai 72,1% (sumber :
kompas.com). Sayangnya banyak masyarakat yang masih menganggap sepele masalah
ini. Maka tak heran, jika pada umumnya orang terpaksa berkunjung ke dokter gigi
ketika sudah mempunyai masalah dengan gigi.
Peranan gigi tak hanya sekedar untuk mengunyah makanan, namun
juga mendukung penampilan. Ketika bertemu seseorang, pertama kali yang
dimunculkan adalah senyuman sebagai simbol keramahan. Bayangkan jika mempunyai
masalah dengan gigi, apakah masih bisa tampil percaya diri? Tak jarang loh,
ketika bertemu dengan seseorang dan saat mereka tersenyum atau tertawa akan menutupi mulutnya dengan tangan.
Bagaimanapun Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati.
Seorang dokter gigi muda, drg Sari yang juga berpraktek di
Global Estetik Klinik ini mengatakan bahwa mempunyai gigi sehat dan good smile
tentu menjadi keinginan bagi kebanyakan orang. Tidak hanya sekedar dilihat dari
segi estetika namun juga faktor kesehatan. Seseorang dikatakan mempunyai good
smile jika mempunyai gigi sehat yang bersih, rapi, tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak ada kerusakan.
Sayangnya, sebagian besar orang kurang mendapatkan pemahaman
bagaimana merawat gigi dengan baik dan benar. Apalagi kecenderungan masyarakat
yang mempunyai tingkat konsumsi karbohidrat dan gula yang tinggi. Makanan
tersebut merupakan musuh terbesar gigi karena bakteri pada rongga mulut akan
mengubah gula menjadi asam, merusak email gigi dan menyebabkan gigi berlubang.
Cara menggosok gigi, pemilihan sikat gigi dan waktu yang
tepat saat menggosok gigi sangat berpengaruh terhadap kesehatan gigi. Dan waktu
yang tepat untuk menggosok gigi adalah setelah sarapan pagi dan sebelum tidur.
![]() |
foto by fauziah |
Kenapa Sebelum Tidur?
Rongga mulut manusia dipenuhi oleh ratusan bakteri yang
setiap saat dapat menyebabkan masalah. Dan yang bertugas untuk menstabilkan
bakteri adalah air ludah. Ketika kita tidur dalam jangka waktu yang lama, bakteri
pada rongga mulut akan terus aktif, sedangkan produksi air ludah produksinya semakin
berkurang. Maka menggosok gigi sebelum tidur sangatlah penting.
Masih Perlukah ke Dokter Gigi?
Sedini mungkin rajin ke dokter gigi, semakin baik untuk menjaga
supaya gigi sehat dan indah, karena kesehatan gigi dan mulut merupakan cerminan
kesehatan tubuh. Rajin ke dokter gigi juga akan mencegah pengalaman buruk (trauma)
saat mendapatkan perawatan gigi. Karena jika ada masalah pada gigi dapat
dilakukan perawatan sedini mungkin dan menghindarkan dari rasa sakit.
Kunjungan rutin ke dokter gigi sebaiknya juga sudah
diterapkan pada usia dini, sehingga anak-anak menjadi terbiasa dan memahami
bagaimana menjaga kesehatan gigi dengan baik.
Saatnya SMILE because IT’S BEAUTIFUL DAY
![]() |
foto by fauziah |
Global Estetik adalah salah satu klinik gigi yang selalu
berkomitmen dalam memberikan layanan pada pasien dengan mengutamakan kepuasan
pasien. Salah satu founder dari Global Estetik, dr Arnof, mengatakan bahwa, Tim
Dokter di Global Estetik tidak menciptakan jarak dengan pasien sehingga sangat
berpengaruh terhadap psikologis pasien. Mereka dapat berkonsultasi seputar kesehatan
gigi dengan familer, fun sehingga jauh dari kesan menakutkan, karena stigma “menakutkan”
itu masih terbentuk di sebagian besar masyarakat. Dengan demikian kesan
kunjungan pertama kali akan memberikan pengalaman positif dan dengan suka hati
pasien kembali berkunjung.
Selain pengalaman treatment, pengalaman saat reservasi juga
terkadang membuat seseorang berpikir dua kali untuk melakukan kunjungan.
Menunggu daftar antrian panjang memang membosankan. Era digitalisasi seperti
saat ini sudah sangat wajar jika ada sebuah klinik yang bisa mempermudah pasien
dengan memberikan solusi reservasi online apalagi langsung terintegrasi dengan
dokter yang dipilih. Mempermudah system pambayaran dengan memberikan pilihan
cash atau card juga memberikan solusi bagi pasien dijaman cashless seperti ini.
Global Estetik menjawab dan memberikan semua kemudahan bagi
pasien yang ingin melakukan perawatan gigi seperti : memutihkan gigi, kawat
gigi, gigi palsu, gigi veneer dan scalling. Global Estetik juga sudah
bekerjasama dengan berbagai perusahaan dan asuransi untuk semakin mempermudah
pasien mendapatkan perawatan gigi dengan Tim Dokter yang professional,
berkualitas dengan harga yang terjangkau. Global Estetik juga satu-satunya
klinik gigi yang transparan mengenai biaya perawatan ujar dr Arnof.
Didirikan sejak tahun 2007 dan hingga kini Global Estetik
semakin dikenal masyarakat luas karena Global Estetik lebih mendekatkan diri
kepada masyarakat. Hingga saat ini sudah 6 cabang yang tersebar di Jakarta
Selatan, Depok, Bandung, Jakarta Timur serta menyusul di Bekasi dan Pekan Baru.
Sejak berdiri hingga saat ini terhitung ada sekitar 10.000 pasien yang sudah
dilayani oleh Global Estetik.
Dengan tagline disiplin, transparan dan bertanggung jawab
Global Estetik memberi jaminan layanan yang cepat dan tepat waktu sehingga
permasalahan gigi pasien dapat ditangani secara cepat dan efektif.